Derap Nusantara

Mengembalikan Ekosistem Mangrove Kalimantan Utara

Newswire
Selasa, 23 April 2024 - 10:27 WIB
Maya Herawati
Mengembalikan Ekosistem Mangrove Kalimantan Utara Salah satu kawasan ditanami mangrove dengan metode silvofishery sebagai bagian rehabilitasi ekosistem pesisir di Provinsi Kalimantan Utara. ANTARA - HO/Dishut Kaltara

TANJUNG SELOR—Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem penting di Kalimantan Utara karena memiliki berbagai fungsi penting, antara lain, melindungi pantai dari abrasi dan gelombang besar serta menyediakan habitat bagi berbagai biota laut, seperti ikan, udang, dan kepiting

Hutan bakau termasuk sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti kayu, buah, hingga madu mangrove.

Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara mencatat, Kalimantan Utara, memiliki wilayah mangrove seluas 326.396.37 hektare. Berdasarkan pola ruang, luasan tersebut terbagi atas hutan primer 47.664,58 hektare, hutan sekunder 124.099,22 hektare, nipah 5.984,09 hektare, dan tambak 148.648,49 hektare.

Kondisi hutan bakau di Kalimantan Utara secara umum dapat dikatakan cukup baik. Namun, terdapat beberapa area yang mengalami degradasi, terutama di wilayah yang dekat dengan perkotaan.

Degradasi hutan bakau juga disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, pembukaan lahan untuk tambak, pencemaran lingkungan, dan sedikit faktor pemanfaatan kayu mangrove untuk bahan bakar

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi dan mengelola hutan tersebut, antara lain, melakukan rehabilitasi hutan mangrove, sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya hutan itu, serta meningkatkan pengawasan terhadap pemanfaatan hutan tanaman bakau itu.

Upaya-upaya tersebut dirancang dapat menjaga kelestarian hutan bakau di Kalimantan Utara dan manfaatnya bagi masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga terus berupaya memulihkan hutan bakau, salah satunya dengan bekerja sama Pemerintah, masyarakat, dan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BGRM) serta para mitra.

Selain pada APBN dan APBD, rehabilitasi bakau di Kalimantan Utara juga mendapat perhatian serta dukungan pembiayaan Bank Dunia. Hal itu seiring percepatan rehabilitasi mangrove melalui program Indonesia’s Mangrove for Coastal Resilience (M4CR).

Pemerintah RI juga berharap hutan mangrove di Kalimantan Utara menjadi maskot pengembangan ekonomi dan kawasan hijau Indonesia. Untuk itu, rehabilitasi bakau dianggap menjadi langkah tepat untuk menghentikan degradasi hutan bakau menjadi kawasan pertambakan.

Intensitas sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat telah banyak memberi perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya ekosistem mangrove. Dahulu, banyak masyarakat menolak penanaman pohon itu.

Namun sekarang kondisinya berbalik,  masyarakat meminta penanaman mangrove lebih digalakkan karena mereka merasakan dampak positifnya terhadap hasil tangkapan ikan dan kepiting bakau.

Sejak 2017, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara bekerja sama berbagai pihak telah melakukan penanaman bakau seluas 2.701 hektare, untuk mengembalikan fungsi ekologi kawasan pesisir.

Penanaman tersebut tersebar di berbagai daerah di tiga kabupaten yaitu Bulungan, Tana Tidung, dan Nunukan.

B1erdasarkan Rencana Umum Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RURHL) Mangrove 2022-2032 (Peraturan Menteri LHK Nomor 10 Tahun 2022), Kementerian LHK merencanakan rehabilitasi 181.553,61 hektare bakau di Kalimantan Utara.

Rehabilitasi itu mencakup 3.822,63 hektare lahan terbuka; 406,91 mangrove terabrasi; 130.869,43 hektare tambak; 18,98 tanah timbul; 1,782,95 hektare mangrove jarang; dan 44.652,71 hektare mangrove sedang.

Rehabilitasi itu dilaksanakan Pemerintah Pusat  bekerja sama dengan kami Pemprov Kalimantan Utara, BRGM, dan para mitra.

Rehabilitasi dan sosialisasi kepada masyarakat adalah kunci untuk menekan laju pertambahan luas areal tambak sekaligus memperluas area mangrove.

Pertumbuhan perluasan tambak dalam 25 tahun terakhir mencapai 844 persen. Pada 1991 luas tambak hanya 15.871 hektare dan pada 2016 mencapai 159.958 hektare. B1111erdasarkan deliniasi tiap petak tambak pada 2021, luas tambak di Kalimantan Utara sudah mencapai 153.928,67 hektare.

“Saat ini pola pikir masyarakat telah berubah berkat pemahaman yang kita berikan, mereka bahkan meminta supaya penanaman mangrove digalakkan ,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara  Syarifuddin.

Fungsi Mangrove

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Kalimantan Timur, Prof. Esti Handayani Hardi menjelaskan banyak fungsi mangrove bagi ekosistem pesisir.

Budi daya ikan dan udang tambak di Kalimantan Utara maupun Kalimantan Timur spesifik, berbeda dengan lokasi-lokasi lainnya, namun cenderung mengalami penurunan produksi secara alami.

Penurunan itu disebabkan oleh perubahan iklim dari tahun ke tahun. Yang paling utama dirasakan oleh pembudi daya adalah kenaikan suhu air kawasan pesisir dan membuat respons fisiologi ikan dan udang itu sensitif sehingga menyebabkan mudah stres dan mati, pertumbuhan lambat, dan gampang terserang penyakit.

Perubahan iklim juga menyebabkan badai dan pasang surut air cenderung tidak normal dan tidak bisa diduga, yang menyebabkan banyak terjadi kerusakan tanggul dan menyebabkan tambak jebol.

Dampak lainnya adalah hipoksia atau penurunan oksigen, yang dibuktikan dengan seringnya ikan mati di keramba-keramba jaring apung.

Oleh karena itu, mau tidak mau, petambak harus turunkan jumlah kepadatan atau udang yang dipelihara, dan hal tersebut berdampak pada produktivitas. Jika tetap memaksakan menebar banyak bibit, akan banyak ikan mati karena bakal kekurangan oksigen.

“Empat akibat perubahan iklim itu, solusinya untuk daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara adalah mengembalikan ekosistem mangrove demi mengeliminasi empat faktor itu,” ujar dia.

Solusi perubahan iklim yang menyebabkan produktivitas budi daya menurun dapat diselesaikan dengan merehabilitasi ekosistem tanaman bakau.

“Riset yang kami lakukan di delta Mahakam, (tanaman bakau) bisa meredam suhu sampai 2 derajat Celcius. Dua derajat itu termasuk selisih yang tinggi untuk daerah perairan,” tutur Prof.  Esti. 

Akar-akar jenis tanaman mangrove berfungsi menguatkan struktur tanah sehingga mampu meredam dampak badai dan abrasi pesisir dan ekosistem di dalamnya.

buah dan daun mangrove juga mengandung bahan metabolit sekunder yang menyimpan bahan antibakteri sehingga penyakit ikan dan udang akan bisa dihilangkan.

Buktinya, tambak yang tidak menggunakan pola silvofishery, 40 persen udangnya terinfeksi patogen, aementara yang silvofishery tidak terinfeksi.

Mangrove juga menjadi cadangan nutrisi yang baik bagi udang, ikan, dan kepiting karena sebagai sumber nutrien seperti fosfor, nitrogen, kalium, dan kalsium.

Namun pertanyaan banyak petambak, mengapa kematian udang dan ikan sebelum masuk masa panen masih sering terjadi? Prof. Eti menegaskan bahwa di sinilah pentingnya penerapan hidrologi atau alur air tambak.

Kalau jumlah mangrove berlebihan maka tidak ada sirkulasi air di situ, tidak ada pembuangan,  dan dasar tambak seperti lumpur tentu akan menghasilkan masalah, bukan cuma mangrove, tanaman lain juga akan begitu sehingga perlu hidrologi yang baik.

Perpaduan pola penghijauan mangrove sekaligus budidaya perikanan yang disebut teknik silvofishery harus dibarengi dengan pengelolaan tambak yang tepat.

Jangan sampai tambak sudah didesain dengan silvofishery, ada pohon mangrove, kemudian malah didiamkan. Hal itu tidak bisa berhasil. Artinya, tetap harus ada proses, yang kalau tidak ada campur tangan manusia atau petambak, justru menjadi efek negatif.

Terdapat 10 langkah penerapan silvofishery agar budi daya dan rehabilitasi berhasil. Yaitu perbaikan konstruksi; pembersihan lumpur tambak; pengapuran, pengeringan, dan pembilasan dasar tambak; pemberian pestisida alami; pemberian prebiotik.

Selanjutnya adalah pemupukan; penebaran benih; pemeliharaan ikan; monitoring lingkungan; dan panen.

Kerja sama BRGM

Muhammad Jufri, Ketua Kelompok Tani Pa Bilung yang berwilayah kerja di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan menyebut kelompoknya telah bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) sejak 2022.

Dari kerja sama itu, telah tertanam sebanyak 30.400 pohon bakau di kawasan Pulau Mapat, Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah pada 2022. Pada 2023 ini, Kelompok Tani Pa Bilung kembali menanam 6.000 bibit sejak Juli 2023.

Kawasan Pulau Mapat yang dahulu (sebelum  2010) gundul akibat perluasan pertambakan, kini mulai menghijau kembali olah tanaman mangrove dengan metode silvofishery.

Jadi warga mendapatkan manfaat dari budi daya, dan penghijauannya juga dirasakan.

Berkat kerja sama dengan organisasi itu, masyarakat kembali mulai menikmati hasil rehabilitasi mangrove. Salah satunya adalah peningkatan tangkapan kepiting bakau. Selain itu, penanaman mangrove membuat warga lebih bahagia dan berarti bagi sesama manusia dan lingkungan hidup.

Betapa penting keberadaan tanaman. Satu pohon kayu bisa memproduksi oksigen untuk tiga manusia dewasa dalam satu satu hari. Oleh karena itu, ia siapkan 1.000 pohon, yang berarti membagikan oksigen kepada 3.000 orang/hari.

Jufri menegaskan apa yang dilakukan itu juga soal pengabdian kepada sesama manusia dan lingkungan hidup. ANTARA

 

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kemenag Gandeng Densus 88 untuk Cegah Intoleransi di Madrasah

News
| Selasa, 16 Juli 2024, 13:37 WIB

Advertisement

alt

6 Destinasi Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi di Bogor

Wisata
| Minggu, 14 Juli 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement